KonotasiNews.

KonotasiNews.

Menyajikan Berita Berimbang. Menerapkan Kaidah-Kaidah Dan Kode Etik Jurnalistik. Mengedepankan Nilai-Nilai Nasionalisme Demi Persatuan Dan Kemajuan Republik Indonesia.

  • Zucchini Noodles: Menikmati Masakan Rumahan, Mie Sehat Tanpa Gluten
  • Scallops Goreng dengan Saus Vanilla ala Napa dan Sonoma
  • Ayam Oseng Bawang Krispi: Paduan Lezat Oseng Bawang dan Ayam Goreng Renyah
  • Ube Brulee: Dessert Eksklusif dengan Sentuhan Ubi Ungu
  • Jalangkote Makassar: Petualangan Kuliner di Tanah Sulawesi
  • Sushi Crepes: Dessert Unik yang Menyajikan Kelezatan Crepes dan Whipped Cream
  • Burrata Manis dan Pedas: Kelezatan Creamy dengan Sentuhan Jeruk dan Kuah Madu
  • Summer Fruit Salad: Camilan Sehat dan Segar!

Get In Touch

Tangis Anggota Bawaslu Nonaktif Pecah di Ruang Sidang, Mengaku Bertindak Atas Perintah Senior

KonotasiNews, Tangis Anggota Bawaslu Nonaktif Pecah di Ruang Sidang, Mengaku Bertindak Atas Perintah Senior

Suasana haru menyelimuti ruang sidang Cakra 8 Pengadilan Negeri (PN) Medan saat Azlansyah, anggota Bawaslu Medan yang dinonaktifkan, membacakan pledoi dengan air mata mengalir. Azlan, yang mengenakan kemeja panjang, terlihat memegang secarik kertas sambil menyampaikan pembelaannya di hadapan Ketua Majelis Hakim, Adriyansyah, serta Jaksa Penuntut Umum (JPU), Gomgom Simbolon.

Azlan memulai pembelaannya dengan mengakui bahwa setiap manusia tak luput dari kesalahan. Ia mengungkapkan bahwa dirinya baru saja menjadi anggota Bawaslu Medan ketika mendapatkan perintah dari seniornya di KPU dan Bawaslu. "Sehingga ketika diperintah senior saya, KPU dan Bawaslu, saya ikut. Dan mereka bilang cara mainnya begini," ujarnya, sambil menangis.

Lebih lanjut, Azlan menceritakan dampak buruk yang menimpa keluarganya akibat pemberitaan terkait kasus ini. "Orang tua saya di kampung dikucilkan sama tetangga. Istri dan anak saya malu. Saya mohon ampun kepada Allah. Mohon saya diringankan (hukumannya)," katanya dengan suara bergetar.

Sebelumnya, pada 8 Mei 2024, Azlan dan rekannya, Fachmy Wahyudi Harahap, menjalani sidang tuntutan di PN Medan. Mereka dituntut dua tahun penjara dengan denda Rp 50 juta dan subsider satu bulan. JPU Gomgom Simbolon menjelaskan bahwa perbuatan keduanya tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. Namun, ia juga menyebutkan beberapa hal yang meringankan hukuman mereka, seperti sikap kooperatif selama persidangan dan fakta bahwa keduanya belum menikmati hasil dari tindak pidana yang dilakukan.

Keduanya didakwa melanggar Pasal 11 UU No. 20 Tahun 2001 Jo Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHPidana, yang menjerat mereka dengan hukuman atas tindak pidana korupsi.

Sidang ini mencuri perhatian publik, terutama setelah Azlan dengan tulus menyampaikan dampak personal yang dialaminya. Tangis dan permohonan ampun Azlan tidak hanya menggambarkan kegetiran yang dialaminya, tetapi juga menyoroti tekanan dan pengaruh senior dalam struktur birokrasi. Sidang ini pun menjadi pengingat akan pentingnya integritas dan tanggung jawab individu dalam menjalankan tugas publik.

img
Author

KonotasiNews

0 Comments

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *