KonotasiNews.

KonotasiNews.

Menyajikan Berita Berimbang. Menerapkan Kaidah-Kaidah Dan Kode Etik Jurnalistik. Mengedepankan Nilai-Nilai Nasionalisme Demi Persatuan Dan Kemajuan Republik Indonesia.

  • Zucchini Noodles: Menikmati Masakan Rumahan, Mie Sehat Tanpa Gluten
  • Scallops Goreng dengan Saus Vanilla ala Napa dan Sonoma
  • Ayam Oseng Bawang Krispi: Paduan Lezat Oseng Bawang dan Ayam Goreng Renyah
  • Ube Brulee: Dessert Eksklusif dengan Sentuhan Ubi Ungu
  • Jalangkote Makassar: Petualangan Kuliner di Tanah Sulawesi
  • Sushi Crepes: Dessert Unik yang Menyajikan Kelezatan Crepes dan Whipped Cream
  • Burrata Manis dan Pedas: Kelezatan Creamy dengan Sentuhan Jeruk dan Kuah Madu
  • Summer Fruit Salad: Camilan Sehat dan Segar!

Get In Touch

Jelang Penutupan IHSG Melesat 1% Lebih, Pepet Level 7.000

KonotasiNews, Jelang Penutupan IHSG Melesat 1% Lebih, Pepet Level 7.000

KonotasiNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terbang kencang 1,17% ke 6.978,71 pada perdagangan Kamis (28/07/22). IHSG menempel level psikologis 7.000 dimana transaksi hari ini cukup ramai di angka RP 13 triliun pada pukul 14:38 WIB.

Indeks saham acuan Bursa New York melesat tajam semalam. Indeks Dow Jones naik 1,37%, kemudian indeks S&P 500 melesat 2,62% sedangkan indeks Nasdaq terbang 4,06%. Kenaikan signifikan indeks saham AS terjadi setelah the Fed mengumumkan kebijakan suku bunga acuannya.

Baca: IHSG dan Logam Mulia Emas

Bank sentral AS tersebut memutuskan untuk menaikkan Federal Funds Rates (FFR) sebesar 75 basis poin (bps) sesuai dengan ekspektasi mayoritas pelaku pasar. Melesatnya indeks saham AS tersebut sebenarnya menjadi katalis positif untuk pasar saham dalam negeri.

Namun investor perlu tetap waspada. Salah satunya karena kenaikan suku bunga AS berarti selisih antara FFR dengan suku bunga Bank Indonesia (BI) akan semakin menyempit. Menyempitnya selisih tersebut dapat menjadi ancaman karena membuat investasi di pasar keuangan Indonesia menjadi relatif kurang menarik, khususnya di pasar obligasi negara.

Investor asing cenderung melepas aset pendapatan tetap satu ini sehingga membuat harganya longsor. Pelemahan harga SBN dan juga outflows membuat nilai tukar rupiah juga tergerus. Rupiah yang tembus Rp 15.000/US$ juga menjadi sentimen negatif yang turut membebani harga aset berisiko seperti saham-saham domestik.

Investor juga perlu mencermati perkembangan terbaru dari emiten-emiten dalam negeri yang kini sudah memasuki periode rilis laporan keuangan kuartal II-2022.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebagai dua bank dengan market cap di pasar modal domestik telah merilis kinerja keuangan yang ciamik. BBRI sebagai bank pelat merah yang fokus di segmen UMKM ini berhasil membukukan laba bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik (konsolidasian) sebesar Rp 24,79 triliun pada semester I-2022.

Dalam publikasi laporan keuangan di media massa, Rabu (27/7/2022), perolehan laba tersebut melonjak 98,7% dari Rp 12,47 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu laba bersih BBCA juga tumbuh dobel digit 24,9% secara tahunan menjadi Rp 18 triliun. Kinerja ciamik dari dua bank terbesar tersebut turut menjadi angin segar pasar saham dan menahan IHSG dari koreksi.

Share:
img
Author

pengembara

0 Comments

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *