Perppu Cipta Kerja: PKWT Dilarang untuk Pekerjaan Bersifat Tetap

Date:

KonotasiNews.com – Kemarin, Presiden Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Cipta Kerja. Perppu ini langsung diundangkan pada hari yang sama.

Meskipun langkah ini dianggap sebagai tindakan yang efektif untuk meningkatkan lapangan kerja, namun juga menimbulkan polemik, mengingat lahirnya Omnibus Law UU Cipta Kerja yang juga menjadi perbincangan kontroversial.

Salah satu poin yang paling menjadi perhatian adalah tentang perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) atau pekerja kontrak. Menurut Perppu ini, PKWT hanya diizinkan untuk pekerjaan tertentu yang sifatnya sementara dan dianggap akan selesai dalam jangka waktu tertentu.

Apa pasal yang menjadi sorotan?

Dalam Perpu Cipta Kerja tersebut yang menjadi sorotan adalah tentang status PKWT dalam Pasal 59 ayat 1, yang isinya adalah sebagai berikut;

  1. pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya;
  2. pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu lama;
  3. pekerjaan yang bersifat musiman;
  4. pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan; atau
  5. pekerjaan yang jenis dan sifat atau kegiatannya bersifat tidak tetap.

Meskipun demikian, PKWT tidak diizinkan untuk pekerjaan yang bersifat tetap. Ketentuan lebih lanjut tentang jenis dan sifat pekerjaan, jangka waktu, dan batas waktu PKWT akan diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) sebagai turunan dari Perppu Cipta Kerja.

Pasal 61 mengatur tentang berakhirnya perjanjian kerja, yaitu apabila terjadi:

  1. Pekerja/Buruh meninggal dunia;
  2. Berakhirnya jangka waktu Perjanjian Kerja
  3. Selesainya suatu pekerjaan tertentu;
  4. Adanya putusan pengadilan dan/atau putusan lembaga penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap; atau
  5. Adanya keadaan atau kejadian tertentu yang dicantumkan dalam Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan, atau Perjanjian Kerja Bersama yang dapat menyebabkan berakhirnya Hubungan Kerja.

Perjanjian kerja tidak akan berakhir hanya karena pengusaha meninggal atau terjadi peralihan kepemilikan melalui penjualan, pewarisan, atau hibah.

“Dalam hal terjadi pengalihan Perusahaan, hak-hak Pekerja/Buruh menjadi tanggung jawab Pengusaha baru, kecuali ditentukan lain dalam perjanjian pengalihan yang tidak mengurangi hak-hak Pekerja/Buruh,” menurut pasal 61 ayat 3.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Tingkatkan PMB, Akuntansi UNUSIA Melibatkan Mahasiswa Sosialisasi di Sekolah Masing-Masing

Brebes-Eksistensi Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia sangat berkembang terutama...

Daftar Artis Terseksi dan Hot di Indonesia

Ada sejumlah pesohor wanita masuk daftar artis terseksi di...

Beberkan Alasan Ibu Norma Risma Berhubungan Intim dengan Menantunya!!!

Ibu Norma Risma, Rihanah Anah membuat pernyataan tertulis terkait...

Artis Sexy Wulan Guritno Adegan Syurr!!

Wulan Guritno sebagai artis profesional di indonesia yang cukup...